sinarmaluku. com– Ada yang salah dengan pola mengajar bahasa asing di sekolah-sekolah kita. Selama bertahun-tahun, kelas bahasa asing terjebak pada rutinitas mekanis: siswa diminta membuka kamus, menerjemahkan kalimat demi kalimat, lalu menjawab soal-soal bacaan.
Siswa dibiasakan menjadi ‘mesin penterjemah’ dan pembaca pasif. Asal jawaban sesuai dengan kunci soal, pembelajaran dianggap sukses.
Padahal, bisa menerjemahkan belum tentu paham isi, apalagi mampu berpikir kritis terhadap teks yang dibaca.
Pola keliru inilah yang dibongkar oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman, FKIP Universitas Pattimura (Unpatti).
Lewat pelatihan capacity building di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, tim akademisi Unpatti mengandeng 30 guru bahasa asing jenjang SMP dan SMA/MA untuk mendobrak gaya mengajar konvensional tersebut.
Tim ini dipimpin oleh Prof. Dr. Kalvin Karuna, M.Pd., bersama Dra. Henderika Serpara, M.Pd.; Eldaa C. Wenno, S.Pd., M.Pd.; Gladys Ariyela Fiani Latuihamallo; dan Zipora Viersten Noya van Delzen.
Tamparan dari Angka PISA
Langkah Tim Unpatti bukan sekadar agenda rutin perguruan tinggi, melainkan respons atas krisis literasi yang makin memprihatinkan.
Hasil PISA 2022 membuktikan skor membaca siswa Indonesia anjlok ke angka 359 (turun dari 371 pada 2018).
Dalam bahasa asing, masalahnya jauh lebih parah. Bahasa bukan sekadar susunan kata, melainkan membawa konteks budaya dan makna tersirat.
Menerjemahkan kata per kata secara harfiah sering kali justru menyesatkan pemahaman siswa.
”Keberhasilan pembelajaran bahasa asing tidak cukup diukur dari kemampuan siswa menerjemahkan teks, tetapi juga dari kemampuannya memahami, mempertanyakan, dan mengevaluasi makna bacaan,” tegas Tim PKM Unpatti.
Solusi: Membongkar Cara Berpikir Lewat Strategi Metakognitif
Untuk menghentikan kebiasaan siswa sekadar ‘berburu jawaban benar’, Tim Unpatti melatih para guru menggunakan Strategi Metakognitif—metode yang memaksa siswa menyadari dan mengontrol proses berpikirnya sendiri saat membaca:
- Sebelum Membaca (Planning): Siswa dituntut menganalisis tujuan membaca dan memprediksi isi teks, bukan langsung membaca tanpa arah.
- Saat Membaca (Monitoring): Siswa diajak menyadari bagian mana yang tidak mereka pahami dan aktif mencari solusi sendiri, bukan langsung menyerah pada kamus.
- Setelah Membaca (Evaluating): Siswa wajib menguji kembali kebenaran analisis mereka dan merefleksikan efektivitas cara belajar yang dipakai.
Dengan metode ini, kelas bahasa asing diubah dari tempat menghafal menjadi laboratorium berpikir kritis.
Sintesis Perubahan dari Kairatu
*
Respons para guru di Kairatu menjadi sinyal kuat bahwa perubahan cara mengajar memang sudah sangat mendesak.
Evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan peserta mencapai 94,49 persen, dan 96,67 persen guru menuntut adanya pendampingan berkelanjutan.
Pesan inti dari Kairatu sangat tegass bahwa penguatan literasi tidak akan pernah berhasil jika guru hanya memberikan bahan bacaan dan tumpukan latihan soal. Perubahan harus dimulai dari cara guru melempar pertanyaan di kelas.
Pertanyaan dangkal seperti “Apa arti kalimat ini?” harus dibuang, lalu diganti dengan pertanyaan yang menguji nalar.
“Bagaimana kamu memahami dan menilai informasi yang kamu baca?”
Sebab, tujuan akhir belajar bahasa asing bukanlah mencetak penterjemah teks, melainkan melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis.